Bandung, 20 Februari 2026 – Sejumlah sekolah menengah di berbagai daerah mulai menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) sebagai bagian dari penguatan kurikulum nasional. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah di kalangan siswa.
Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi dituntut menyelesaikan proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa diminta merancang solusi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah atau membuat proposal bisnis sederhana berbasis riset pasar.
Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses analisis, diskusi, hingga presentasi hasil akhir. Beberapa kepala sekolah menyebutkan bahwa metode ini membuat siswa lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Namun, tantangan masih muncul, terutama terkait kesiapan guru dalam merancang proyek yang terstruktur dan terukur. Diperlukan pelatihan lanjutan agar implementasi kurikulum berbasis proyek berjalan efektif dan tidak sekadar menjadi formalitas administrasi.
Pengamat pendidikan menilai, jika diterapkan secara konsisten, pendekatan ini dapat menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin menuntut kemampuan adaptif dan kolaboratif.