Jakarta, 20 Februari 2026 – Transformasi digital di sektor pendidikan terus berkembang, namun kesenjangan literasi digital di kalangan siswa dan tenaga pendidik masih menjadi persoalan utama. Sejumlah pengamat pendidikan menilai bahwa percepatan penggunaan teknologi belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia.
Dalam dua tahun terakhir, banyak sekolah mulai mengintegrasikan platform pembelajaran daring, sistem manajemen kelas digital, serta penggunaan perangkat berbasis cloud untuk administrasi akademik. Namun, tidak semua guru dan siswa memiliki tingkat pemahaman teknologi yang sama. Hal ini menyebabkan efektivitas pembelajaran digital belum optimal.
Data survei nasional pendidikan menunjukkan bahwa sekolah di wilayah perkotaan cenderung lebih siap dalam penerapan pembelajaran berbasis teknologi dibandingkan sekolah di daerah terpencil. Keterbatasan infrastruktur internet, perangkat belajar, serta pelatihan guru menjadi faktor utama ketimpangan tersebut.
Pakar pendidikan menegaskan bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, keamanan siber, serta etika dalam penggunaan media digital. Tanpa pemahaman yang komprehensif, siswa berisiko terpapar informasi yang tidak valid dan konten negatif.
Di sisi lain, pemerintah melalui program transformasi pendidikan terus mendorong peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan digital, sertifikasi teknologi pendidikan, dan penyediaan akses platform pembelajaran nasional. Beberapa sekolah juga mulai menerapkan model blended learning yang menggabungkan tatap muka dan pembelajaran daring untuk meningkatkan fleksibilitas belajar.
Pengamat menilai, kunci keberhasilan pendidikan digital terletak pada kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan sektor swasta. Jika kesenjangan literasi digital dapat ditekan, sistem pendidikan Indonesia berpotensi menciptakan generasi yang lebih adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi berbasis teknologi di masa depan.